Posted by: youseeindonesia | May 7, 2010

JIKA SURGA DAN NERAKA TAK PERNAH ADA (IKHLASKAH KITA MENYEMBAHNYA)

Ini bukan tentang perdebatan antar agama
Bukan mengingkari
Bukan tentang atheisme
Dan juga bukan untuk meragukan ajaran suatu agama

Melainkan sebuah pemikiran
Yang diawali dengan pengandaian
Tak terjadi
Tak benar bila terjadi
Sebab tak mungkin terjadi

Namun sudah selayaknya kita renungkan
Arti hadir kita di dunia ini

Saat kita bersumpah di hadapNya untuk melakukan yang terbaik
Menerima tantanganNya
Untuk turut berperan dalam sebuah sandiwara yang sudah diskenariokanNya

Kita berjanji…
Untuk kuat menghadapi godaan dunia yang hanya permainan bagiNya
Saat itu
Kita tak pernah mengharapkan apapun

Kemudian..
kita terlahir dengan ikhlas
Dan hidup (harus) dengan ikhlas
Serta kembali padanya, juga dengan ikhlas


Mungkin tak pernah terpikirkan di benak kita, betapa sulitnya melepas jiwa kita dari jerat-jerat pamrih. Sebuah rasa dimana kita mengharapkan akan ada imbalan yang setimpal atas apa yang kita lakukan. Sangat umum, ketika kita melakukan sesuatu selalu dengan tendensius. Mengharap akan ada sesuatu yang baik untuk kita setelah kita melakukan sesuatu baik benar maupun salah.
Untuk sebuah pekerjaan, pamrih yang kita harapkan adalah berupa gaji, honor, bonus, tunjangan, dan lain-lain. Namun itu adalah hal logis karena dewasa ini mencari nafkah adalah sebuah kebutuhan di samping sebuah kewajiban.

Namun demikian, ada yang lebih harus kita cermati. Lebih harus kita waspadai. Lebih harus kita hindari. Saat kita melakukan sesuatu selalu dengan pamrih, dan sesuatu itu bukan untuk manusia, melainkan Sang Pencipta.
MenyembahNya adalah bentuk bakti kita pada Allah, yang seharusnya dengan ikhlas, tulus, tanpa mengharap apapun.

Kini, kita perlu menguji diri apakah benar bahwa diri ini telah secara ikhlas menyembah Allah?
Benarkah manusia tanpa pamrih dalam menyembah Allah ?
Ataukah kita mau menyembah Allah adalah demi memperoleh Surga serta terhindar dari Neraka saja ?

Saat pikiran kita diwarnai oleh angan-angan. Tentang indahnya surga dan hinanya neraka, kita justru berpikir tentang bagaimana menghindari neraka dan mencapai surga. Ini sebuah dasar pemikiran yang salah. Tujuan (goal) yang ingin kita capai justru adalah surga, benda yang dicipta oleh Dia yang seharusnya kita jadikan goal.

Saat kita beramal dengan berkata,

“Nanti kita dapat pahala,”

Saat kita menyumbangkan sebagian dari apa yang kita miliki dengan berorientasi pada pahala, maka niatan kita untuk menolong menjadi sirna sebab kita mengutamakan diri sendiri dengan mengharap pahala yang nantinya kita dapatkan.

Jangan pernah mengharap pahala, lakukanlah sesuatu dengan ikhlas. Pahala untuk surga, jadi jika kita mengharap pahala, maka kita lebih mengagungkan pahala dari sang Pemberi Pahala. Dan selanjutnya kita bertuhan pada surga.

Ini kelemahan dari pendidikan moral di negeri ini yang mengajarkan generasi muda untuk berbuat baik hanya karena pahala. Seandainya surga tak pernah dijanjikan oleh Tuhan maka takkan ada yang berbuat baik, sebab manusia hanya mengharapkan pahala untuk surga yang ingin ia rasakan nantinya.

“Itu dosa lho.., nanti masuk neraka”

Kalimat seperti itulah yang sering kita dengar bahkan kita ucapkan saat mendidik anak kecil. Sebuah model yang salah untuk menerangkan tentang ketuhanan, tentang keesaan dan kekuasaan mutlaknya atas benar dan salah. Anak kecil dididik untuk takut pada neraka, pada hal-hal yang sifatnya ciptaan, dan bukan takut pada dzat yang Maha itu.

Keyakinan semacam ini sangat mudah luntur karena tidak dilandasi dengan rasa takut yang ikhlas. Takut yang seharusnya hanya ditujukan kepadaNya, bertransformasi menjadi takut pada makhluk ciptaanNya, jin, api neraka, kegelapan, dan lain sebagainya.

Dan kemudian, kita menjadi gila surga. Saat sedari kecil kita diiming-imingi akan indahnya kehidupan setelah ini bila kita berbuat baik, maka apa yang ada di pikiran kita adalah mengharap balasan dari Allah atas kebaikan kita.

Ikhlaskan seluruh ibadah dan amal baik kita untukNya dan untuk semua yang membutuhkan. Sudah seharusnya kita melupakan surga dan neraka, sebab dengan begitu kita berbuat baik bukan karena surga melainkan karena nurani.

Dan tak seharusnya pula kita takut pada neraka yang panas dan penuh siksa, sebab alasan kita menjauhi segala laranganNya bukan karena takut pada adzab yang ia berikan, tetapibentuk kepatuhan kita, keyakinan kita, bahwa apa yang dilarang olehNya benar-benar buruk untuk kita.

Manusia hidup untuk menjadi khalifah di muka bumi ini., untuk bermanfaat bagi manusia lainnya. Maka akan sangat disayangkan apabila semua kebaikan yang kita tanam selama ini tak pernah berarti di mataNya sebab kebaikan kita dilandasi dengan rasa “mengharap”, “pamrih”, dan “tendensi” akan semua ciptaan indah (meski dijanjikan) dari Allah.

Surga dan neraka ibarat manajemen langit tentang reward and punishment. Tujuannya adalah membentuk perilaku. Namun demikian, itu bukan tujuan utama kita hidup di dunia melainkan membuktikan apa yang kita katakan padaNya dahulu di langit, bahwa kita sanggup mencicipi ujian dunia, bahwa kita mampu bertahan dari godaan, bahwa kita takkan berpaling dariNya dan bahwa kita memujaNya

Yang terpenting dari semua itu adalah kita kembali ke hadiratNya dengan menunaikan tugas kita dengan baik, tuntas, dan berhasil. Surga adalah hak prerogatif Allah. Dialah yang berhak memilih siapapun untuk menikmati surga yang Dia miliki sepenuhya dan dengan alasan yang hanya Dia pula yang berhak menentukan.

Tak sepantasnya kita membicarakan surga dan neraka, siapa yang akan masuk ke dalam keduanya dan apa isinya. Kita hanya ditugaskan untuk menjadi pejuang kebenaran di dunia, tanpa motif apapun, tanpa pamrih, tanpa mengharap pahala, surga, dan tanpa takut akan neraka.

Apa yang akan terjadi jika surga dan neraka itu ditiadakan dan semua manusia mengetahuinya?
Maka mereka yang semula menyembahNya, memujaNya siang dan malam, beribadah, beragama, taat dan takwa untuk tujuan kehidupan setelah dunia dan surga, akan berhenti melakukan segala aktivitas baiknya. Menghentikan segala tuntunan yang diajarkan, dan hanya besenang-sengang tanpa peduli lagi pada apapun sebab motivasi mereka hanya surga. Bagi mereka, tanpa beribadah pun, tanpa taat pada aturan Tuhan dan tanpa beribadah pun, mereka bisa bahagia.

Hanya segelintir orang yang masih setia memujaNya karena kepatuhan, kesetiaan, rasa hormat, rasa syukur dan terimakasihnya atas semua yang Allah berikan untuknya. Namun demikian, merekalah manusia-manusia yang nantinya akan dekat padaNya, yang akan mendapat tempat terndah di sisiNya, sebab ketulusan dan keikhlasan menyembahNya, menghilangkan segala hasrat dan nafsunya menggapai surga dan segala kenikmatan di dalamnya.

Sudah seharusnya kita pasrah dan berserah padaNya atas berapapun jumlah pahala yang akan kita dapatkan, sebab kita (seharusnya) tidak menginginkan itu.
Karena pahala bukan kebutuhan kita dan surga bukan tujuan kita, meainkan Tuhan, Allah azza wajalla, Dialah yang kita butuhkan. Itu lah akhir dari segala akhir tujuan yang hakiki. Itulah titik perhentian terakhir, titik pusat segala sesuatu yg non-pusat….. tidak dua… atau tiga titik …..

Ikhlas memiliki kedudukan tinggi di mata Allah. Dia akan “tersenyum bahagia” melihat para hambaNya yang begitu ikhlas menyayanginya. Dan surga bukan menjadi motif atau alasan untuk menyayangi Allah, melainkan adalah hadiah untuk mereka dariNya. Keikhlasan menjadi kunci segalanya,bagaimana kita bisa menrima segala sesuatu, melakukan segalanya, untukNya dan untuk manusia lainnya, penuh dengan rasa tulus.

Tulus karena memang Allah memerintahkan kita untuk berbuat demikian.

* Ditulis kembali untuk mengenang masa-masa indah bersama dosen ter-“ngeri” se FE UNDIP satu semester yang lalu

Nano the lagingapain publisher


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: