Posted by: youseeindonesia | May 7, 2010

TIADA JALAN LAIN (SEBUAH PERJALANAN PANJANG DI TAPAL BATAS KAYA DAN MISKIN)

Diangkat dari sebuah kisah nyata
yang saya temukan kurang lebih empat bulan yang lalu,
di salah satu sudut Kota Semarang yang sunyi.

Ini kisah tentang sebuah kisah.
Tentang pilihan hidup yang teramat sulit,
Antara harga diri dan hasrat..
Tentang iba dan terimakasih.

Namanya Sugiarto. Kalau dalam bahasa Jawa artinya kaya harta. Sehari-hari ia berangkat dari fajar menyingsing hingga senja terbenam untuk mengais rejeki. Menyusuri jalan-jalan protokol kota Semarang bersama tongkat kayunya, pria kelahiran Wonogiri ini memulai pencahariannya di pagi hari, saat kesibukan menjadi ciri khas kota ini.

Sepintas terbersit sebuah pertanyaan, apa sebenarnya yang dia lakukan. Apa dengan berjalan di seluruh jalanan kota Atlas ia akan mendapat pekerjaan. Bajunya lusuh. Wajahnya seperti belum mandi. Badannya bungkuk dan kehadiran tongkat memberi kesan pria separuh baya ini sudah tak seperkasa dulu.

Pukul sebelas lebih lima menit, matahari Kota Semarang mulai membuat bumi berkeringat. Sugiarto masih terus menapakkan langkahnya. Membiarkan jejak-jejaknya tersapu angin berdebu. Di bahunya terkalung sarung dengan asal-asalan. Di tangan kanannya, sebuah Aqua
gelas kecil tergenggam. Matanya menari seolah mencari sesuatu, tapi wajahnya tetap menunduk. Ia lewati penjual-penjual makanan kecil dengan gerobak dorong di sana-sini. Di hadapannya kini berdiri dengan gagah sebuah masjid paling tersohor di Semarang, Baiturrahman. Ia berjalan, mengayunkan tongkatnya, menuju kerumunan manusia, dan tanpa sepatah katapun, ia mulai menggerakkan gelas plastik kosong di tangan kanannya.

*****

Sugiarto seorang bapak beranak tiga. Istrinya minggat saat ia masih hidup dalam kesulitan. Rumahnya di daerah Fatmawati, Pedurungan. Sebuah rumah yang cukup bagus dan pekarangan yang cukup luas jika ia ingin membangun lagi. Mungkin taksiran harganya bisa menembus angka tiga ratus. Tentu dengan skala juta rupiah.

Kedua anaknya kini sudah sarjana dan si bungsu sedang menempuh kuliah semester pertama program S1 ekonomi sebuah universitas di Semarang.
Di rumah itu Pak Sugiarto bercerita tentang perjalanan hidupnya. Ia seorang perantauan. Ia lahir di sebuah desa terpencil di Wonogiri. Kekeringan panjang benar-benar menjadi ketapel yang melempar mimpinya jauh ke langit.

Dan jatuhlah mimpi itu di Semarang.

Mencoba membuat sebuah awal dengan berjualan mie ayam keliling, Pak Sugiarto tampaknya akan mengubah nasibnya sendiri. Itu sebuah usaha yang bagus. Pak Sugiarto berhasil. Di era 1970-an tak banyak penjual makanan dorong seperti sekarang, apalagi mie ayam.

Akan tetapi, kesuksesan Pak Sugiarto tak berlangsung lama. Sewindu berselang, eksodus besar-besaran dari daerah pantai selatan yang minus membuat daerah pantura penuh dengan berbagai usaha jalanan. Salah satunya, mie ayam. Pak Sugiarto harus menghadapi banyak pesaing. Itu bukan masalah bagi Pak Sugiarto, tapi masalah datang di akhir November ketika salah satu pesaing Pak Sugiarto, atau yang biasa dipanggil Gunem, yang terkenal paling murah mengubur impian semua penjual mie ayam di daerah itu. Bukan karena harganya, tapi ada sesuatu yang lain.

Saat seorang pelanggan berkunjung ke rumahnya untuk memesan mie ayamnya dalam skala besar, Gunem melakukan sebuah kesalahan besar. Ia memulai sebuah petaka.

“Mas Gunem, saya akan ada hajatan besar ahad ini Mas, tapi uang saya ngepas, mbok tolong saya dibantu Mas…,
Saya datang kesini karena saya tau mie ayam jualan Mas lah yang paling murah, dan porsinya banyak, rasanya juga ndak kalah dengan yang lain, tolong ya Mas..,”

Gunem berbaik hati dengan menerima kontrak yang kurang dari separo harga yang seharusnya. Entah bagaimana Gunem berpikir. Mungkin buat dia itu kesempatan yang baik membuat wajahnya semakin terkenal di kalangan tamu, supaya ia bisa semakin kondang sebagai penjual mie ayam, atau mungkin ia ingin beramal baik pada pelanggan yang sudah memohon-mohon kepadanya.

“Ini nanti prasmanan saja ya pak?”

“Ohh.. ndak papa Mas Gunem?”

“Endak pak.. saya ikhlas,”

“Terimakasih lho Mas Gunem, saya berutang budi sama Mas,”

“Iya bapak.. ndak perlu sungkan, saya ini juga dari Wirosari ndak punya modal apa-apa, bisa minum air di sini sudah lega rasanya, tapi ini selanjutnya bagaimana ya pak? Saya ndak ngerti, saya belum pernah dikontrak-kontrak begitu ik..,” lanjut Gunem sambil menghisap rokoknya dan mempersilakan tamunya.

“O Mas Gunem dari Wirosari.. kalo orang tua saya dulu perantau dari Pacitan Mas, tapi saya lahir di sini, Semarang…! Jadi ya, tinggalnya di sini…
Lhah, begini saja Mas Gunem, ada nota ndak? Bukan saya ndak percaya Mas Gunem bisa ato ndak, cuma buat syarat mau saya kasihken ke istri saya di rumah..,”

“Ohh. Hahaha…” mereka berdua tertawa lepas di tengah perbincangan. Asap putih mulai mengepul, mengiring percakapan yang hangat antar keduanya.

“Baik pak.. kalau begitu saya ke warung depan dulu Pak ya, mau beli nota, sebentar saja kok Pak, Bapak tunggu di sini ya”

“Iya Mas Gunem, saya ndak akan kemana-mana,”

Gunem berlari kecil menuju warung Mbok Prih yang menjual barang-barang sembako dan kebutuhan sehari-hari lain. Sementara, pelanggan tadi masih duduk di kursi reot di teras bilik yang disewa Gunem untuk tinggal. Bilik ini kecil, terbuat dari gedhek, semacam anyaman dari bambu berukuran besar, biasa digunakan sebagai dinding rumah di desa-desa.

Lima menit berlalu, Gunem belum juga muncul. Pelanggan itu mulai bosan. Ia berdiri untuk sekedar meregangkan otot-ototnya yang kaku dan berjalan mondar mandir sambil menerawang jauh ke bangunan-bangunan di sekitarnya, bangunan-bangunan yang kebanyakan sama dengan bilik tempat tinggal Gunem. Lantai terasnya pun sama dengan yang lain, hanya tanah yang dihiasi dengan jalan raya semut yang selalu padat oleh lalu lintas layaknya arus mudik lebaran. Semut memang tak kenal lelah. Filosofi yang juga dipegang oleh para perantauan dari selatan.

Tiba-tiba, sebuah lubang menarik perhatian pelanggan tadi. Dari lubang kecil seukuran uang receh lima rupiah itu, ia mengintip. Gelap. Ada rasa penasaran yang mendorongnya untuk masuk ke dalam. Ia ingat, Gunem pergi tanpa mengunci pintunya. Pelanggan itu masuk dengan membuka pintu yang sudah berderit bunyinya. Ia menghidupkan korek gas untuk menerangi jalannya.

Pelanggan itu terhenyak. Jantungnya seolah berhenti sejenak. Lalu berdegup kencang sekali. Di sekelilingnya kini, berkarung-karung tikus mati tertata rapi. Ia berjalan selangkah. Sebuah talenan menghalangi pandangannya. Di atas talenan itu teronggok sebuah pisau cacah, daging yang sebagian sudah dicacah, sebuah benda mirip dengan tali berwarna hitam, dan sebuah kepala hewan kecil berbulu dengan mata polosnya yang mendelik.

Tubuhnya gemetar. Ia menggigil luar biasa. Ia ingin muntah saat itu juga, bau tak sedap memenuhi seluruh sudut ruangan. Di sisi lain sebuah kompor dengan api sedang dan panci di atasnya, tak ia hampiri. Ia seolah sudah yakin itu daging tikus cacah. Ia berlutut, tak kuasa melihat pemandangan ini. Korek apinya turut turun menerangi lantai.
Banyak kerikil di sini.
Tapi bukan.
Itu bukan kerikil biasa.

“hwwkkk.., “ lelaki itu semakin ingin muntah.

Ia terduduk di lantai. Di tengah kepala-kepala tikus yang beserakan setelah dipotong di talenan.
Jumlahnya puluhan.
Atau.
Ratusan mungkin.

“Apa yang Bapak lakukan di sini!?”

Pelanggan itu menoleh. Gunem dengan wajah gugup sudah ada di pintu. Ia membukanya tanpa berderit.

“Nggatheli Sampeyan!! Dodol opo sampeyan? Nggambus kabeh! Opo iki??” pelanggan itu berteriak dengan nafas tersengal dan melempar kepala tikus yang berserakan di dekatnya.

Gunem tergagap. Belum sempat ia beranjak, pelanggan itu menerobos keluar, mendorongnya hingga terjengkang. Pelanggan itu menuju jalan dan berteiak.

“Hoi poro penduduk deso..!! reneo kabeh!!
Kae, seksenono tukang apus-apus sing dodolan tikus ing deso iki. Penipu. Selama iki yang kita makan dari dia itu tikus. Kae buktine ning njero! Ayo rene!!“

Mendadak pelataran bilik itu dipenuhi oleh warga.
Gunem berdiri dan mencoba menghalangi mereka yang akan masuk. Tapi ia tak berdaya.
Habis sudah riwayat Gunem. Seperti juga berakhirnya kejayaan penjual mie ayam di daerah itu. Tak ada yang percaya lagi pada penjual mie ayam.

“Mereka umumnya pindah ke daerah lain atau beralih profesi seperti saya,” kata Pak Sugiarto.

Pak Sugiarto turut menjadi saksi saat tubuh Gunem dihajar massa, dan dalam keaadaan babak belur ia dibanting di sebuah tanah lapang. Seluruh barangnya dirusak dan dilempar ke arahnya. Kepala-kepala tikus itu dan tikus-tikus yang masih ada di karung serta gerobak yang sudah dihancurkan dirajamkan ke tubuh Gunem yang limbung. Warga yang sudah gelap mata tak lagi bisa dikendalikan. Minyak tanah yang baru dibeli Gunem dari Mbok Prih, mengakhiri perantauannya.

Gunem dibakar hidup-hidup.

Pak Sugiarto menyesalkan kejadian itu. Katanya, kini banyak yang seperti itu. Mereka yang menjual es batu berbahan air sungai, mereka yang menjual sate ayam tikus, mereka yang menjual daging sapi “celeng”, mereka yang menjual aqua galon dari air keran, bakso berboraks, tahu berformalin, minuman berpewarna tekstil, mereka yang menjual obat terlarang, minuman keras, ciu dan lain sebagainya, mereka yang menjual manusia, mereka yang menjual pohon-pohon di hutan desa, menjual budaya, menjual pulau-pulau di negeri ini, menjual kekayaan negara dan uangnya mereka nikmati.

Mengapa mereka tidak dibakar hidup-hidup.

Ketika ditanya kenapa tidak mencoba berjualan mie ayam lagi, Pak Sugiarto hanya tersenyum kecut,

“Mereka ndak akan bisa kaya…,” jawabnya.

Pak Sugiarto juga tidak takut jika suatu saat ia diciduk oleh Satpol PP yang terkenal galak di Semarang.
“Ngene lho Mas..apa mereka yang meminta-minta uang dari kedudukan yang mereka punya itu bukan pengemis? Lihat polisi sekarang, lihat pegawai dinas sekarang, lihat semua pegawai negeri dan pejabat-pejabat sekarang Mas, tinggal dikasih sedikit pasti kita bebas.

Jadi pada hakekatnya kita semua itu pengemis. Sampeyan juga, yang masih meminta-minta sama bapak ibu njengenan tho? Ya kan? Nah.. dari hasil opo yang taklakoni iki Mas, anak-anakku bisa meraih mimpinya, berbeda kalo seandainya aku balik dodolan mie ayam manih Mas…”

*****

Seorang pemuda mengeluarkan lembaran merah dari dompetnya. Sepuluh ribu rupiah. Itu memang uang dari bapak ibunya untuk biaya hidup di Semarang selama kuliah, tapi bapak ibunya juga lah yang mengajarinya untuk berbagi pada sesama yang membutuhkan, termasuk pengemis yang bertopang pada tongkat kayu yang kini terpatung di hadapannya.

“Boleh saya ikut ke rumah bapak?” pemuda itu meminta syarat

Pengemis itu mengangguk. Ia berbalik seakan memberi isyarat pemuda itu untuk mengikutinya. Si pemuda menjadi saksi dari pengalaman hidup Si Pengemis, mengikutinya berangkat “bekerja”, hingga pulang dan menikmati sate madura di teras keramik rumahnya sambil bercerita tentang perjalanan terjal kehidupannya.

Ada sebersit rasa kecewa di hati pemuda itu. Namun, ia tak bisa berbuat banyak. Ia belajar untuk memahami kehidupan. Belajar untuk mengerti perubahan, bahwa segalanya tak pernah berubah terlalu cepat, melainkan manusia lah yang terlalu lambat menyadari perubahan itu. Dan hanya segelintir manusia yang mau berubah.

Sesaat pemuda itu terdiam, menghentikan entakan jemarinya di tuts-tuts laptopnya. Ia hanya bisa menulis cerita ini, untuk orang lain, untuk siapapun yang berkenan membacanya. Ia berharap, semua yang membaca tulisan ini bisa menemukan dan memaknai kebenarannya sendiri.

Yah.., hanya itu yang bisa aku lakukan.

Dan di suatu sore di bulan yang sama, sebuah tangan menepuk pundakku saat aku melangkah pelan di depan kompleks Baiturrahman. Si empunya tangan bersafari rapi, setengah baya, namun tegap dan bersih, mempersilakan aku masuk ke mobilnya, mengajakku menikmati senja yang indah di sudut Semarang. Mobil itu melaju meninggalkan Baiturrahman yang penuh dengan kisah uniknya. Kisah yang salah satunya aku tulis ini.

Bapak yang menepuk pundakku tadi tersenyum, dan berkata;

“Ini anak-anak saya, yang dulu saya ceritakan sama njenengan Mas..”

* Ditulis kembali untuk mengenang masa-masa indah bersama dosen ter-“ngeri” se FE UNDIP satu semester yang lalu

Nano the lagingapain publisher

Pages: 1 2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: