Posted by: youseeindonesia | May 7, 2010

USIA SEBUAH CINTA

Dari sebuah pengalaman pribadi penulis di suatu sore, di bulan Juli

“Untuk semua yang pernah kukenal..
Aku hanya ingin berbagi..
Tentang sebuah kisah yang mungkin tak penting untuk diceritakan
Dan terlalu sayang untuk dilupakan”

Sampangan, Semarang,
Aku terlahir dari keluarga yang hidup pas-pasan di sebuah desa di kota karesidenan yang juga tak menonjol. Bapak hanya pensiunan guru dan ibu tidak bekerja. Walau begitu aku sangat merasa cukup. Aku bisa duduk di bangku kuliah sebuah universitas bergengsi.

Aku merasa beruntung dilahirkan sebagai orang Jawa. Bukan karena aku menganggap rendah suku lain, tetapi dari apa yang aku lihat orang Jawa paling mendekati budaya ketimuran. Berbohong untuk menyenangkan orang, mempersilakan makan, tidak terlalu vokal dan keras dalam menghadapi situasi, kalem dan tidak berapi-api, selalu menyajikan jamuan ketika ada yang bertamu, menyapa dengan senyum, ewuh pakewuh.
Semua hal kecil itu membuatku kagum.

Dalam kultur Jawa, cinta juga harus dimaknai dan diukur. Bibit, Bobot, dan Bebet dari orang yang kita pilih harus jelas.
Kisah ini hanya sepenggal peristiwa yang membuat pola pikirku berbeda dalam memaknai cinta. Mungkin “anak kecil” seperti aku tidak seharusnya membicarakan cinta. Tapi semakin dini kita belajar, seharusnya semakin cepat kita akan mengerti. Dan aku hanya mencoba untuk belajar, memahami apa yang dipikirkan para pendahuluku.

Di suatu sore yang terik di bulan Juli. Aku memacu sepeda motorku di Jalan Kaligarang (dengan garang pula). Aku terbiasa memutar stang kanan sampai mentok saat pikiranku dikuasai emosi. Mungkin.. untuk sebagian orang itu hal biasa. Apalagi sepeda motorku hanya supra, maksimal 120. Tapi aku yakin, di mata orang, aku ugal-ugalan. Apalagi jika ia menyaksikan apa yang kualami saat itu.

Tujuanku tak jelas. Di traffic light kedua di jalan yang sama aku berbelok ke kiri. Di sudut jalan ada objek wisata Sam Poo Kong. Sebuah kuil berumur ratusan tahun. Kuil yang dibangun oleh Laksamana Cheng Ho dari Cina, berabad-abad silam saat singgah di ranah Majapahit ini. Jalan ini juga arah menuju sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang. Tempat digemblengnya calon-calon pengajar sekolah masa depan.
Jalanan cukup ramai. Ada beberapa motor dan mobil yang berebut posisi terdepan. Dan salah satunya aku. Aku terhalang sebuah mobil jip Katana Hitam dengan tulisan super besar.

SENIOR THAMRIN.

Sementara marka jalan tak terputus menandakan tak boleh mendahului.
Mobil ini pelan sekali.., di tengah lagi, pikirku.
Kesabaranku habis. Kepongahanku membenamkan akal sehatku. Aku putuskan beralih ke kanan untuk mendahului. Aku melakukan perhitungan yang salah. Di depan Katana hitam itu berbaris empat mobil keluarga seolah mengantri bensin. Aku memang benar-benar melakukan itu. Aku nekat memacu sepeda motorku.
Sedetik kemudian aku baru menyadari. Di ujung sana aku disambut sebuah tikungan tajam ke kiri. Tikungan tajam itulah alasan mengapa marka jalan dibuat tidak terputus.
Dan kini, persis di tikungan itu, aku belum mampu mendahului kesemua mobil tadi.

Saat itu pula aku melihat dua sosok kurus berdiri di tengah jalan.
Satu yang lebih dekat dengan arahku melambai seolah meminta jalan menyeberang. Persis seperti Patroli Keamanan Sekolah atau PKS yang menyeberangkan orang. Tapi dia bukan PKS. Dan aku bahkan yakin dia tak pernah menjadi PKS atau mungkin mendengar kata PKS pun tak pernah.

Karena sosok yang melambai itu.., sudah renta.

Keriput di wajahnya seolah berkata bila ia sudah ada di bumi ini lebih dari 75 tahun yang lalu. Melalui berbagai asam garam dan pahit manis kehidupan. Dan bukan tidak mungkin ia terkejut dengan perubahan yang terjadi. Saat pada masa mudanya, tak banyak berseliweran mobil-mobil mewah, jalan yang tak sebesar dan seramai sekarang, dan tak ada yang akan menabraknya seperti aku.

Ohh..

Aku tersadar dari lamunanku. Aku harus menghindar. Aku tak mungkin bergerak ke kiri sebab aku tahu persis ada barisan mobil tadi yang memenuhi badan jalan.

Kakek itu berhenti melambai. Ia menatapku. Dan mendekap sang nenek dengan tangan kanannya, Menariknya agak ke belakang seolah ingin menjadi pelindung baginya. Aku terpana. Aku mengerem sebisaku. Gagal. Aku membuang stangku ke kanan. Kulewati sisi belakang mereka di marka yang tak putus-putus ini. Jantungku seolah jatuh dari tempatnya. Beruntung, tak ada yang muncul dari arah berlawanan.

Aku masih tak percaya dengan apa yang aku saksikan. Mereka tersenyum saat aku melihat mereka. Mereka tak mengumpat. Tak sepatah kata-kata kotor pun keluar dari mulut mereka berdua. Senyum yang seolah mewakili hati mereka untuk berkata,

Kami sudah siap dengan segalanya anak muda
Kami sudah pernah merasakan segalanya di dunia ini
Kami hanya menunggu waktu kami habis
Kamu juga akan tua seperti kami
Dan kamu akan mengerti kelak, saat kamu renta seperti kami,
Jangan pernah sendiri
Ada Tuhan yang harus selalu kau ikuti
Dan Dia akan menjagamu

Aku terpaku.
Ini hanya kejadian biasa. Tapi bukan berlebihan jika aku terpikir tentang suatu saat nanti.. ketika setiap manusia akan mengalami masa tua. Sebuah masa dimana setiap yang kita punya sudah sangat tidak berarti. Hanya orang yang kita sayangi yang akan membuat kita kaya. Kaya secara batiniah. Sebuah masa dimana kepasrahan adalah jalan terbaik. Yang bisa menenangkan jiwa ini. Karena sang hasrat juga sudah menua. Dan tak berharap banyak pada tubuh renta tempat ia tinggal

Sebuah pemandangan yang mungkin tak pernah aku saksikan sebelumnya. Seorang yang begitu mencintai pasangannya. Melindungi dengan nyawanya. Ia setia. Ia melindungi dan menjaganya sepenuh hati.

Meski pasrah, tapi ia, sang kakek itu, ada di sisi sang istri untuk menjaganya. Bahkan saat maut sudah mengaum, menggertaknya untuk menyingkir. Namun ia tak menyerah pada hari tuanya.

Ia tahu apa yang ia lakukan percuma jika aku menabraknya. Tapi setidaknya, ia berusaha. Ia tahu ia akan mati, tapi ia akan mati dalam tugasnya, dalam kewajibannya, menjaga amanah yang dititipkan kepadanya, anak manusia paling jelita baginya sekaligus makhluk Tuhan yang paling ia cintai. Wanita yang senantiasa ia jaga selama berpuluh tahun, yang selalu menemaninya dalam keadaan apapun.

Sebuah perbuatan yang hanya bisa dilakukan karena cinta.
Cinta yang tak padam meski rayap-rayap usia menggerogoti tegapnya masa muda, membuatnya renta dan tak berdaya.

Sebuah kegundahan menyusup di relung guha garbaku. Akankah nantinya, aku bisa seperti mereka, terus saling menjaga, menyayangi, dan melakukan yang terbaik. Dan apakah aku bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar menyayangi aku apa adanya, ikhlas dengan segenap kekuranganku, dan terus setia seperti sang nenek.

Aku termenung. Buatku, itu sebuah keindahan yang luar biasa. Kala segala yang ada dunia ini sudah tak berarti lagi. Saat bertemu denganNya adalah hal terindah yang kita impikan. Dan menjaganya adalah ibadah yang kita tunaikan dengan ikhlas dan tulus.
Kita tidak pernah salah mencintai seseorang. Tapi yang sering tejadi adalah, kita mencintai orang yang salah. Kita mencintai dia bukan karena dia cantik atau tampan. Tapi Dia cantik, dia tampan, karena kita mencintainya.

Aku mulai bimbang. Saat semua orang berbicara tentang bibit, bobot dan bebet, aku berpikir tentang ketulusan. Yang harus kita tahu dan pastikan menurutku sekarang, bukan dari mana ia berasal, dari kasta apa ia dilahirkan, kaya atau miskin, cantik atau jelek, melainkan tuluskah ia pada kita.

Dan yakinkan pada diri kita sendiri, bahwa kita akan mecintainya, tulus menjaga, menyayangi dan mendampinginya sampai akhir yang ditentukan Tuhan nantinya.
Akhir dari usia sebuah cinta.

* Ditulis kembali untuk mengenang masa-masa indah bersama dosen ter-“ngeri” se FE UNDIP satu semester yang lalu

Nano the lagingapain publisher


Responses

  1. haloo mbak/ mas,
    mbak / mas alumni undip akuntansi angkatan berapa?
    saya intan alumni undip akuntansi angkatan 2011. sangat tertarik dengan blognya..
    mau tanya2 bnyak hal boleh tahu nama fbnya mbak/mas?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: