Posted by: youseeindonesia | May 10, 2010

APALAH ARTI SEBUAH NAMA

Sudah lama teman-teman di kampus saya bermain dengan hape canggih mereka. Alangkah senang memiliki hape seperti itu. Ahh.. lagi-lagi konsumtivisme yang ada di benak saya. Apa kita memang bangsa yang kaya raya, yang . . . semua barang . . , teknologi . . , sudah ada dan tinggal dibeli. 

Sebentar, kata dibeli harus dicetak tebal, kapital, digaris bawahi dan diberi tanda petik. Seperti ini: 

                                                         DIBELI 

Mengapa? Karena membeli mengandung satu unsur, satu kata yang secara eksplisit tidak nampak dalam kata “BELI”, yaitu : UANG. Nah, apakah orang-orang bangsa kita ini uangnya tak habis-habis? Untuk masalah itu saya percaya iya. Orang Indonesia itu kaya-kaya. Salah kalau kita dibilang sebagai negara miskin mendekati Afrika. Buktinya obrolan sehari-hari anak muda kita mulai dari motor, gadget, PS, laptop, internet, sampai mobil-mobil mewah dunia. Bukan cuma ngobrol . . , orang Indonesia bicara selalu dengan bukti, lihat saja hape-nya, lihat motornya atau lihat mobilnya. 

Anda tak perlu melihat itu saya pikir. Setiap hari pun saya yakin Anda sudah melihatnya, atau mungkin Anda adalah bagian dari apa yang saya bicarakan. Hahahaahaa. . .  

Tapi tunggu, apakah Anda melihat yang satu ini?? 

                                                           NAMA 

Di akuntansi nama masuk dalam kategori aktiva tak berwujud seperti paten, hak cipta dll. Trus so what dengan teknologi impor yang begitu  —kan kaya-–  “murah” untuk kantong Indonesia? 

Anda, pembaca yang saya hormati, dari manapun Anda berasal, dari kota maupun dari ndeso mlencit bin ndelik, Anda pasti kenal yang namanya Java. Lihat, di situlah keakraban kita dengan teknologi terjalin. Uang mempermudah segalanya, dan kemudian Java menjadi bagian dari hidup kita. 

Masih belum menjawab apa kaitannya Java dengan Uang, dengan konsumtivisme, dengan teman-teman saya yang kaya tadi atau dengan Indonesia. 

Apa? 

O ya? 

  

Ya. 

Itu dia. 

Indonesia. 

  

Taukah Anda bahwa nama “java” diadopsi oleh Sun Microsystem untuk dijadikan nama bahasa pemrograman?  

Pada awalnya mereka terinspirasi oleh kopi dari Jawa yang setiap hari mereka minum. Dan akhirnya nama Java dan logo cangkir kopi dipakai untuk produk mereka. Anda tau akibatnya sekarang? jika kita mencari gambar Java di Google maka dari 20 gambar yang muncul pada halaman pertama hanya ada 2 gambar yang berkaitan dengan pulau Jawa! 

Dan kini Madura menjadi bahan perbincangan setelah produen mobil Italia yang paling disegani di dunia, mengadopsinya menjadi sebuah produk andal, mobil hybrid Lamborghini Madura. 

Sepanjang sejarahnya, Lamborghini, pabrik mobil  asal Italia  ini memang selalu mengambil inspirasi dari hewan tangguh yang termasuk salah satu nenek moyang sapi yaitu banteng. 

Adalah Ferruccio Lamborghini, pemilik pabrik mobil yang konon khabarnya berbintang Taurus ini memang mencintai hewan  banteng. Bahkan identitas dasar produk Lamborghini selalu menggunakan ikon seputar binatang tangguh ini, seperti : 

Miura, adalah nama jenis banteng Spanyol yang biasanya digunakan untuk acara bullfighting oleh para matador . 

Espada, adalah bahasa Spanyol untuk pedang yang juga mengacu pada matador sendiri. 

Tradisi itu berlanjut hingga Islero, Jarama, Urraco, Jalpa, Diablo, Murciélago, Gallardo, dan Reventón. Hanya ada dua nama dalam jajaran produk Lamborghini yang tidak mengikuti tradisi itu: Countach dan Silhouette. 

Dan alasan kenapa Madura diambil menjadi nama produk terbaru Lamborghini ini adalah jelas karena tradisi karapan sapinya.  

Adalah seorang mahasiswa Munich University bernama Slavche Tanevsky berkolaborasi dengan desainer mobil dari Lamborghini dan Audi yang telah menelorkan desain mobil futuristik tersebut. Mereka mengaku terinspirasi oleh tradisi budaya Karapan Sapi di Pulau Madura, Indonesia. 
What next? 
Mungkinkah ada laptop Acer “Halmahera”? processor Intel “Papua”? rudal “Borneo”? lemari es sepuluh pintu Sharp ”Sumatra”? televisi tiga dimensi LG “Sulawesi”? atau mungkin Blackberry “Bali”? 
  
Apakah kita hanya tinggal nama. Bahkan kita bangga saat nama kita digunakan orang lain, bukan karena kita bangga pada nama sebagai identitas kita. Kita bangga saat nama kita dikenal dunia, bukan sebagai wujud jatidiri kita, melainkan simbol suatu benda yang mendatangkan uang bagi orang lain, para kapitalis. 

Saat anda membayangkan diri anda adalah orang bule yang sama sekali tidak kenal Indonesia apalagi Jawa atau Madura, ia akan tertawa geli jika tau Anda bangga nama pulau Anda terkenal, karena ia takkan peduli pada pulau Anda, ia peduli pada Java bukan Jawa, ia peduli pada mobil Lamborghini yang wah bukan peduli pada pulau pengekspor sate ayam terbesar di dunia. 

“Apa ini? Nama pulau aja nyontek merk mobil, gimana kalo bikin nama anaknya, pasti nyontek merk sparepart!” begitulah kira-kira si bule akan nggerundel begitu tau di halaman search engine yang ia buka muncul gambar sebuah pulau. 

  

So ironic.  

Seharusnya ada sesuatu yang bisa diberikan para pengguna nama itu untuk pemilik asli nama itu. Tentu negara atas nama rakyat yang berhak. Bayangkan saja berapa uang yang mengalir dari kepopuleran nama itu. Si produsen gratis saja mengambil nama itu dan kemudian mematenkannya, menjadikan hak cipta, merk dagang, dan uang mengalir deras ke kantongnya tanpa imbas apapun pada pemilik asli nama itu. Imbas uang jelas tidak, imbas populer? Mungkin seperti konsep bona fide profit dan accounting profit. 

Sekedar upaya me-refresh memory kita, beberapa waktu lalu desainer kondang Italia, Armani mempublish Kaos berlogo (Ehem!!) Garuda Pancasila. Tentu saja ia tak akan memasukkan beringin atau banteng di perisai sang garuda. Tentu saja Garuda itu menoleh ke sisi yang lain dan tentu saja ia tak menggenggam pita Bhineka Tunggal Ika. 

Dan andai semua orang tau, “Merak” pun telah diadopsi menjadi nama sebuah mobil, Maserati Merak di tahun 1972, jauh sebelum kita memikirkan ini. 

Apalah arti sebuah nama, slogan itu yang selalu diusung kaum tradisional. Kini nama begitu berharga, begitu berarti, karena ini adalah jaman keemasan kapitalisme, dimana tak ada yang gratis dan semua adalah uang, termasuk sebuah nama. Artinya? Artinya nama kita belum merdeka. Nama kita diambil gratis dan dijual lagi dengan mahal seperti Negeri Belanda yang bisa kaya raya karena VOC bisa mengambil gratis rempah-rempah, teh, gula, kopi dan harta-harta lain dari negeri ini, barang yang di eranya dihargai lebih mahal dari emas. 

Lalu, apa hubungannya dengan teman-teman saya tadi? Hehe,. maaf maksud saya hubungannya dengan bangsa ini? 

Pertama, bangsa kita tak peduli dengan nama, terlihat dari kalimat . . “apalah arti sebuah nama”. Kedua, bangsa kita menikmati terjajah teknologi sekaligus terjajah nama. Ketiga bangsa kita lebih bangga menggunakan nama asing untuk suatu produk, pokoknya harus dengan kosakata bahasa asing, bahkan . . . itu berlaku untuk menamai putra-putrinya. Keeempat, bangsa kita tidak pernah menciptakan sesuatu sehingga otomatiiiissszzz . . . . bangsa kita tidak pernah menciptakan nama. 

  

Namun apakah sepenuhnya orang-orang asing itu salah ? ? ? 

Tentu saja, 

tidak. 

Kesalahan jelas terletak pada diri kita, mengapa kita jumawa, mengapa kita bangga, mengapa kita merasa hebat, dan terakhir sekaligus terpenting, mengapa kita tidak bisa membuat mobil. 

  

Source: 

http://deteksi.info/2009/12/harga-lamborghini-madura/ 

http://www.dapurpacu.com/madura-akan-mendunia-dengan-lamborghini/ 

http://duniasapi.com/lamborghini-karapan-sapi/ 

http://maserati-alfieri.co.uk/alfieri109.htm/ 

Nano The lagingapain Publisher 

Pages: 1 2


Responses

  1. keren banget

  2. like this !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: