Posted by: youseeindonesia | May 19, 2010

BECAK, INDONESIAN VEHICLE

Jika Anda singgah ke Indonesia, Anda akan menemukan sesuatu yang lain. unik, tradisional, murah, bebas polusi, dan nyaman. Itulah BECAK. Moda transportasi yang konon sudah ada sejak dulu kala.

Becak (dari bahasa Hokkien: be chia “kereta kuda”) adalah suatu moda transportasi beroda tiga yang umum ditemukan di Indonesia dan juga di sebagian Asia. Kapasitas normal becak adalah dua orang penumpang dan seorang pengemudi.

Ini salah satu sudut kota Solo di jalan Slamet Riyadi, sebuah becak melaju di jalan raya denga diiringi sebuh kereta api

Di Indonesia ada dua jenis becak yang lazim digunakan:

* Becak dengan pengemudi di belakang. Jenis ini biasanya ada di Jawa.
* Becak dengan pengemudi di samping.
Jenis ini biasanya ditemukan di Sumatra.

Becak juga dapat dibagi lagi ke dalam dua jenis, yaitu:
1. Becak kayuh – Becak yang menggunakan sepeda sebagai kemudi.
2. Becak bermotor/Becak mesin – Becak yang menggunakan sepeda motor sebagai penggerak.

Kemunculan kendaraan beroda tiga yang ditarik dengan tenaga manusia itu pertama kalinya hanya kebetulan. Tahun 1869, seorang pria Amerika yang menjabat pembantu di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jepang berjalan-jalan menikmati pemandangan Kota Yokohama.

Suatu saat dia berpikir bagaimana cara istrinya yang kakinya cacat bisa ikut berjalan-jalan? Tentu diperlukan sebuah kendaraan. Kendaraan itu, pikirnya, tidak usah ditarik kuda karena hanya untuk satu penumpang saja. Kemudian ia mulai menggambar kereta kecil tanpa atap di atas secarik kertas.

Orang-orang Jepang yang melihat kendaraan pribadi ditarik manusia itu menamakannya jinrikisha. Penarik jinrikisha biasanya diberi upah tiap minggu. Lama-lama, jinrikisha menarik perhatian masyarakat Jepang, khususnya para bangsawan.

Pada era itu pula jinrikisha akhirnya sampai ke telinga masyarakat di China. Hingga dalam waktu singkat, jinrikisha dikenal sebagai kendaraan pribadi kaum bangsawan dan kendaraan umum. Kendaraan ini diberi nama rickshaw. Sementara penghelanya disebut hiki.

Tapi, lama-lama para pemerhati kemanusiaan di China iba melihat para hiki yang kerja bagaikan kuda itu. Mulai 1870 rickshaw dilarang beroperasi di seluruh jalan-jalan negeri China. Sedangkan inrikisha di Jepang sebelumnya sudah lama dilarang.

Diilhami jinrikisha dan rickshaw, tiba-tiba saja sekitar tahun 1941 untuk pertama kalinya di kota-kota besar di Indonesia muncul becak. Berbeda dengan jinrikisha dan rickshaw yang beroda dua dengan ban mati, becak sudah lebih modern. Rodanya tiga dan menggunakan ban angin, mengemudikannya dikayuh dengan dua kaki.

Soekarno, seorang pemimpin termahsyur Indonesia dalam pidatonya mengatakan bahwa, tukang becak dan pedagang kaki lima sebagai pejuang kemerdekaan, kaum-kaum marhaen yang terus berjuang.

Dianggap membawa nuansa kerakyatan. Orang-orang tertentu memiliki ikatan sentimental dengannya. Kabarnya, muncul pertama kali di Surabaya pada 1940an. Tapi, siapakah gerangan penemu becak? Akankah ia hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah kota?

Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota / Hendak melihat-lihat keramaian yang ada / Saya panggilkan becak, kereta tak berkuda / Becak, becak, coba bawa saya

Saya duduk sendiri sambil mengangkat
kaki /
 Melihat dengan asyik, ke kanan dan ke kiri / Lihat becakku lari, bagaikan tak berhenti / Becak, becak, jalan hati-hati

WALAU liriknya sederhana, lagu anak-anak karangan Ibu Sud ini ternyata menyimpan makna yang dalam. Becak tak hanya digambarkan sebagai kebutuhan rakyat jelata –yang terengah dan terpojok oleh peraturan. Nadanya gembira. Dalam syairnya, tersirat bahwa becak adalah sarana plesiran.

Di bawah tempat penumpang, kadang direntangkan karet tipis yang akan bergetar bila tertiup angin. Suaranya berdengung ketika becak melaju. Ada yang memasang potongan-potongan besi dan kaleng di bawah jok, hingga menimbulkan suara riuh. Bentuk kreativitas lain pada becak, yaitu lukisan atau tulisan pada ”pelupuk” rodanya. Ada tulisan ”ngupoyo upo” alias mencari nafkah. Ada gambar cewek dengan kutang sedikit melorot sehingga tampaklah belahan teteknya.

Ketika alat angkut jenis ini meningkat jumlahnya, masalah pun muncul. Becak dituding sebagai biang kemacetan lalu lintas. Kemudian ditiupkan pendapat bahwa pengoperasian becak dianggap tidak manusiawi. Lalu di beberapa kota, becak dilarang beroperasi. Becak-becak itu pun dilempar ke laut. Daerah yang masih mengijinkan keberadaan becak, membaginya menjadi dua shift: siang dan malam.  Di Jakarta, becak pernah diatur menurut wilayah operasionalnya. Masing-masing ditandai dengan warna-warna yang berbeda. Becak dari Jakarta Pusat, misalnya, tidak bisa beroperasi di wilayah Jakarta Timur, dan seterusnya. Beragam aturan dibuat, rupanya belum menjamin permasalahan lalu lintas beres begitu saja. Becak melulu dijadikan ”kambing hitam”. 

BECAK “LONDO”

Ehemm.. apakah becak hanya ada di Indonesia?
dan apakah situasinya sama dengan di Indonesia?
sudah pendapatan kecil, dijadikan kambing hitam pula.
Mari kita tengok Berlin, ibukota negeri nenek moyang mobil, Jerman.
Meski metropolitan, Berlin masih menyediakan sarana transportasi bertenaga manusia. Berbeda dengan situasi di Indonesia terutama Jakarta, becak Berlin yang dinamai “velotaxi” ini bebas menarik penumpang di mana saja. 

Tappiiiii . . .
tentu saja becak mereka berbeda, futuristik, anggun dan modern. Tak seperti becak di sini yang pengemudinya di belakang, sopir velotaxi duduk di depan penumpang. 

Sekilas seperti bajaj, tapi digenjot dengan kaki. Deskripsi alat angkut yang dioperasikan Velotaxi GmBH ini berkabin seperti cangkang telur. Warna umumnya oranye kuning. Tidak ada pintu, dan antara kursi pengemudi hanya disekat kain kanvas rendah. Kabin penumpang terbatas untuk dua orang saja. Seperti taksi, becak Berlin ini juga punya nomor yang dipasang di atap kabin depan di atas sopir. 

Di Platz de Republik di mana berlokasi Reichstag, gedung parlemen Jerman (Bundestag) yang tersohor juga mangkal sejumlah velotaxi. Karena dikelola manajemen modern, becak becak Berlin ini jelas operasinya. 

Satu lagi yang berbeda dengan becak Indonesia. Tukang becak Berlin ini pun bisa meraup penghasilan besar. Tarifnya pun tak sembarangan plus fasilitas guide dari sang tukang becaknya. Ada dua rute yang dikantongi velotaxi ini, reguler dan rute turis. 

Minimal kita harus mengeluarkan ongkos 5 euro (kira-kira Rp 60 ribu), untuk rute paling pendek yaitu satu (1) kilometer. Si tukang becak takkan secuilpun mendongeng tentang kiri kanan jalan yang kita lewati. 

Kalau ingin lebih jauh lagi, tarif dihitung kelipatan per kilometer. Untuk rute turis ada tarif tetap 15 euro (kira-kira Rp 180 ribu) plus cuap-cuap dari si tukang becak Berlin. Misal, rute dari Tiergarten ke Brandenburger Tor, tarifnya fixed 15 euro. 

Velotaxi GmBH didirikan Ludger Matuzewski kira-kira 10 tahun lalu. Di Berlin sendiri ada sekitar 40 unit velotaxi. Dan semua taksi becak itu laku keras oleh pemasang iklan. 

Berliner Pilsner, Berliner Beer, Puma, Nike, Esprit, Diesel, Mastercard, T-Mobile, dan Langnese adalah sederet perusahaan kakap yang memajang iklan produknya di bodi velotaxi. Tarif pasang iklannya terhitung tak murah. 

Velotaxi GmbH mematok tarif 1.800 euro (kira-kira Rp 21,5 juta) per bulan per becak. Dengan pemasukan segitu, jelas pendapatan dari penumpang tak lebih bonus untuk para tukang genjot becaknya. 

Di halaman Reichatg misalnya, bahkan tukang becak justru santai membaca buku di velotaxinya menunggu penumpang datang. Jam edar becak Berlin ini 8 jam sehari. Dapat atau tidak penumpang, sedikit atau banya pendapatan, setelah 8 jam harus parkir. Umumnya ratarata sehari bisa dapat 80-100 euro (Rp 1 juta) setelah dipotong ongkos sewa becak sebesar 5 euro. Ini juga yang berbeda dengan tukang becak Indonesia, bersantai, tidur, meski jam kerja tak teratur, dan pendapatan pun maju mundur.

Dan lihatlah perbedaannya . .

Weitz . . tapi jangan salah . .
untuk urusan seni, becak Indonesia lebih unggul !!
tengok saja Yogyakarta dan Bali . . , maka Anda akan menemukan yang lebih hebat dari apa yang Anda lihat di bawah ini, check it out :


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: