Posted by: youseeindonesia | May 27, 2010

KARNA, SANG KSATRIA SEJATI

Untuk Anda yang merasa rendah diri, merasa tak punya apa-apa, saya harus katakan, MATI SAJA.

Mengapa? Karena Anda telah mematikan seluruh potesi Anda dengan meyakini bahwa potensi itu tidak ada. Anda telah mematikan kemampuan itu sendiri, membuatnya menjadi tak berguna meski ia sangat berguna.

Hari ini, saya mencoba berbagi secuil kisah fiksi yang mengilhami banyak kisah nyata dan salah satunya menjadi inspirasi bagi Bapak bangsa kita, Soekarno. Saya mulai dengan kata kunci, ksatria.

Di sejumlah pergunjingan acapkali kita melontarkan kata ksatria. Sebuah penggambaran gagah berani, tanggung jawab, dan kejujuran. Sesungguhnya, makna yang terkandung dalam kata ksatria tak sedangkal apa yang biasa kita intrepretasikan. Ksatria seperti sebuah seni yang muncul dari bakat, seperti sebuah idiologi yang muncul dari lingkungan, dan seperti cinta yang muncul tiba-tiba dari hati.

Ia adalah adipati kerajaan kecil yang menjadi bagian dari Hastinapura, Awangga. Namanya Karna.

Ia mungkin lupa kapan ia terlahir dan siapa ibunya, tapi yang ia tahu semenjak kecil, ia adalah anak seorang kusir pedati yang miskin. Setiap hari ia mencari pakan untuk kuda-kuda yang dijaganya. Tentu itu bukan kuda-kuda milik ayahnya karena ayahnya hanya seorang penjaga kuda kerajaan dengan bayaran rendah.

Ayahnya juga harus mencari ranting-ranting kayu di hutan untuk kayu bakar di pawon sederhana miliknya. Di saat itulah, Karna melihat sesuatu. Sesuatu tentang dunia, bahwa ada perbedan besar di dunia ini. Tentang siapa, tentang derajat, tentang kelas, tentang jarak antara rendah dan tinggi.

Kadang ia iri. Namun Karna seorang yang mawas diri. Ia sadar siapa dirinya. Seorang sudra yang tak boleh bermimpi menjadi ksatria. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan. Ayahnya selalu melarang karena khawatir anak semata wayangnya ini akan terkena anak panah yang meleset.

Namun, Karna bosan berdiam diri. Jiwanya sebagai seorang pemuda mulai bergejolak. Diam-diam, ia mengamati lebih dekat para ksatria itu. Pemuda-pemuda seumurannya yang tampak hidup dengan penuh kesenangan dunia, hidup dengan menghabiskan waktunya untuk berburu, berpesta dan bermain dengan wanita. Memegang senjata bertahtakan emas dan menunggang kuda-kuda yang gagah. Sementara ia, hanya mengurus tai-tai kuda mereka.

Sesaat Karna tersadar. Seolah sebuah bisikan bergaung di daun telinganya, menimbulkan sebuah ledakan jiwa yang dahsyat, sebuah perasaan yang tak dipunyainya sebelum ini. Hasrat jiwanya berteriak, memaksa Karna untuk tak tinggal diam.

“Kau sama dengan mereka. Kau bisa seperti mereka, kau harus bisa apa yang mereka bisa, kau harus punya apa yang mereka punya, dan yang terpenting, kau harus punya apa yang mereka tak punya,” sang hati seolah keluar dari jiwanya dan bercengkrama dengannya, membujuk dan merajuknya meninggalkan takdir yang diciptakan orang lain, takdir bahwa ia adalah seorang sudra.

“kau bisa menjadi ksatria Karna. Kau berhak. Kau bisa belajar memanah, kau bisa belajar berkuda, dan kau bisa lebih baik dari mereka dengan mencintai rakyatmu, rakyat miskin seperti bapakmu,” suara itu kembali berargumen.

Di setiap pelajaran bahasa Jawa dalam sub pewayangan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: